CIREBON – Ketika matahari mulai condong ke ufuk barat, jantung Kota Cirebon mendadak berdenyut lebih kencang. Minggu (22/2/2026) sore, Alun-alun Kejaksan kembali bertransformasi menjadi panggung raksasa bagi ribuan warga yang merayakan tradisi ngabuburit. Ruang terbuka yang ikonik dengan aksen arsitektur modern ini seolah menjadi muara bagi mereka yang hendak membunuh waktu sebelum azan Magrib berkumandang.
Bagi warga Cirebon, ngabuburit di Kejaksan bukan sekadar menunggu waktu. Ia adalah ruang jeda untuk melepas penat setelah seharian menahan dahaga, sekaligus titik temu sosial lintas generasi. Di sini, batas-batas status sosial seolah melebur di antara antrean kolak dan riuh tawa anak-anak yang menanti senja.
Sejak pukul 16.30 WIB, arus manusia mulai mengalir dari berbagai penjuru jalan utama. Lapangan yang luas itu tidak lagi sekadar hamparan lantai, melainkan arena bermain bagi anak-anak yang asyik berkejaran dan mengayuh sepeda. Di sudut lain, komunitas skateboard lokal tampak memanfaatkan kontur alun-alun untuk menunjukkan kebolehan mereka, menciptakan perpaduan energi muda di tengah suasana religius Ramadan 1447 Hijriah.
Surga Takjil di Pinggir Lapangan
Daya tarik utama Kejaksan bukan hanya pada keelokan arsitekturnya, melainkan pada deretan pedagang kaki lima yang berjejer rapi di tepian kawasan. Aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan, manisnya uap kolak, hingga kesegaran es buah yang berwarna-warni menjadi ujian kesabaran bagi setiap pelancong sore.
Rina, seorang pedagang jajanan tradisional berusia 35 tahun, tampak sibuk melayani pembeli yang tak henti datang. Baginya, Ramadan adalah berkah tahunan yang tak boleh terlewatkan. “Kalau sore menjelang buka, ramainya luar biasa. Alhamdulillah, jualan sering ludes bahkan sebelum Magrib tiba,” ujarnya sembari membungkus aneka gorengan. Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana Alun-alun Kejaksan menjadi mesin penggerak ekonomi mikro bagi warga lokal selama bulan suci.
Sisi Lain Ngabuburit: Olahraga dan Interaksi
Ali, seorang pengunjung berusia 28 tahun yang datang memboyong keluarganya, mengaku Kejaksan memiliki “ruh” yang berbeda dibanding tempat lain. “Setiap tahun kami pasti ke sini. Selain lokasinya yang strategis, pilihannya lengkap. Bisa olahraga ringan, anak-anak senang, dan urusan takjil tinggal pilih,” ungkapnya.
Di balik kemeriahan itu, aspek keamanan tetap menjadi prioritas. Personel Satpol PP dan aparat kepolisian tampak berjaga di beberapa titik strategis. Mereka bukan hanya memastikan ketertiban, tetapi juga mengatur arus lalu lintas di sekitar alun-alun agar tidak terjadi kemacetan total akibat volume kendaraan yang meningkat tajam di sore hari.
Saat langit Cirebon mulai berubah jingga, sebagian warga memilih untuk menyantap takjil sederhana di bawah bayang-bayang menara Masjid At-Taqwa yang berdampingan dengan alun-alun. Sementara sebagian lainnya bergegas pulang, membawa kantong-kantong berisi hidangan berbuka untuk keluarga di rumah. Alun-alun Kejaksan, dalam riuhnya, tetap menjadi saksi bisu bagaimana harmoni Ramadan dirajut di tengah hiruk-pikuk kota. (frans)
