KUNINGAN – Gema selawat mulai terdengar dari pengeras suara masjid saat jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WIB, Sabtu (28/2/2026). Di depan Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kuningan, suasana mendadak riuh. Sejumlah petugas berseragam lengkap berdiri di pinggir jalan, memberikan isyarat tangan agar para pengendara sepeda motor membelokkan laju kendaraannya masuk ke dalam halaman Mapolres.
Sontak, pemandangan ini memicu kepanikan kecil. Beberapa pengendara motor tampak mendadak ragu, menarik rem dalam-dalam, bahkan ada yang saling lirik dengan pengendara di belakangnya. Bayangan akan adanya razia besar-besaran, pemeriksaan surat kendaraan, hingga sanksi tilang seketika melintas di benak warga yang sedang asyik mencari menu berbuka.
Namun, ketegangan itu hanya berumur hitungan detik. Begitu memasuki gerbang Mapolres, alih-alih diminta menunjukkan STNK atau SIM, para pengendara justru disambut dengan sapaan ramah dan senyum hangat dari personel kepolisian bersama anggota Bhayangkari. Di tangan mereka, bukan buku tilang yang dipegang, melainkan ratusan paket takjil siap santap.
Kapolres Kuningan, AKBP M. Ali Akbar, yang turun langsung dalam kegiatan tersebut, tampak sumringah melihat perubahan ekspresi warga. Dari yang semula tegang dan pucat, menjadi tawa renyah dan ucapan terima kasih yang tulus.
“Setiap Ramadan, kami ingin menunjukkan bahwa Polri hadir tidak hanya sebagai penegak hukum yang kaku, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang ingin berbagi keberkahan. Kami ingin mengubah persepsi bahwa masuk ke kantor polisi itu harus selalu soal urusan hukum yang menakutkan,” ujar Ali Akbar di sela pembagian takjil.
Sekitar 500 paket takjil ludes dalam sekejap. Menariknya, polisi sengaja mengarahkan warga masuk ke halaman kantor, bukan membagikannya di pinggir jalan raya. Strategi ini diambil untuk memastikan arus lalu lintas di jalur utama tetap mengalir lancar tanpa hambatan, sekaligus menjamin keselamatan warga dari risiko kecelakaan di jalan raya.
Bagi Kapolres Ali Akbar, mengajak warga masuk ke “rumah” kepolisian memiliki makna simbolis yang mendalam. Ia ingin menegaskan bahwa Mapolres Kuningan adalah ruang publik yang terbuka dan ramah bagi siapa saja.
“Kami ingin menyampaikan pesan bahwa markas polisi adalah milik masyarakat. Tempat ini terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan pelayanan. Melalui interaksi santai seperti pembagian takjil ini, kami berharap kedekatan emosional antara polisi dan warga semakin erat,” tambahnya.
Kegiatan bakti sosial ini tak pelak meninggalkan kesan mendalam bagi pengguna jalan. Seorang pengendara, yang semula sempat berpikir untuk memutar arah karena takut dirazia, mengaku terkesan dengan pendekatan humanis ini. Pengalaman singkat di sore hari itu seolah menghapus jarak antara aparat dan rakyat.
Sore itu, halaman Mapolres Kuningan tidak lagi terasa dingin dan formal. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan yang penuh kehangatan, di mana senyum warga dan dedikasi petugas melebur dalam semangat berbagi di bulan suci. Kepolisian Resor Kuningan membuktikan bahwa pelayanan terbaik tidak melulu soal angka kriminalitas yang turun, tapi juga soal seberapa besar kehadiran mereka mampu menyentuh hati masyarakat. (ali)
