CIKALRAMADHAN- Ramadan bukan sekadar uji ketahanan fisik melawan lapar dan haus. Di balik tirai rumah tangga, bulan suci ini juga menjadi ujian pengendalian diri atas salah satu insting manusia yang paling mendasar yaitu hasrat seksual. Bagi pasangan suami istri (pasutri), muncul sebuah ruang abu-abu yang sering kali memicu keraguan: “Bolehkan kita menunjukkan kasih sayang di siang hari, atau harus menjaga jarak demi menjaga kesucian ibadah?”
Pertanyaan ini bukanlah isu baru, namun selalu krusial untuk dibahas setiap tahunnya. Ada ketakutan kolektif bahwa ekspresi cinta seperti kecupan di dahi atau pelukan hangat dapat meruntuhkan pahala puasa. Lantas, di mana sebenarnya garis batasnya?
Kemesraan: Antara Ekspresi Cinta dan Pemicu Syahwat
Secara hukum dasar, kemesraan antar pasutri di siang hari Ramadan sebenarnya tidaklah haram. Dalam literatur Nasehat-Nasehat Kebaikan karya Agus Hermanto dan Rohmi Yuhani’ah, dijelaskan bahwa ekspresi kasih sayang diperbolehkan, dengan satu catatan besar yaitu selama tidak dibarengi syahwat yang mengarah pada hubungan intim.
Namun, para ulama memberikan catatan kaki yang penting. Hukumnya bisa bergeser menjadi Makruh (sebaiknya dihindari) jika tindakan tersebut dikhawatirkan memicu hasrat yang sulit dibendung. Puasa, pada hakikatnya, adalah latihan self-control. Jika sebuah pelukan menjadi “pintu masuk” bagi sesuatu yang dapat membatalkan puasa secara fatal (seperti hubungan seksual), maka menjauhi pintu tersebut adalah langkah yang lebih utama.
Belajar dari Kontrol Diri Sang Nabi
Titik terang mengenai batasan ini sebenarnya dapat kita temukan pada riwayat Sayyidah Aisyah RA. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Aisyah mengisahkan bahwa Rasulullah SAW pernah menciumnya saat beliau sedang berpuasa.
Namun, Aisyah memberikan penekanan yang sangat penting dalam kesaksiannya: “Nabi adalah sosok yang paling mampu mengendalikan diri.”
Penegasan Aisyah ini adalah “kunci jawaban” bagi kita semua. Rasulullah SAW menunjukkan bahwa kasih sayang tetap bisa hadir di tengah ibadah, namun kekuatannya ada pada pengendalian mental. Ciuman atau pelukan Nabi adalah ekspresi kelembutan seorang suami, bukan dorongan nafsu yang tak terkendali.
Analogi “Berkumur” yang Menenangkan
Kisah menarik lainnya datang dari Umar bin Khattab RA. Suatu kali, ia merasa sangat gelisah setelah mencium istrinya di siang hari saat berpuasa. Ia merasa telah melakukan kesalahan besar. Namun, saat ia mengadu, Rasulullah SAW menjawabnya dengan analogi yang sangat logis dan menenangkan.
Beliau bertanya: “Bagaimana pendapatmu jika engkau berkumur saat puasa?”
Analogi ini sangat dalam. Berkumur saat wudu tidak membatalkan puasa selama airnya tidak tertelan ke kerongkongan. Begitu pula kemesraan fisik; ia tidak merusak puasa selama tidak berlanjut pada aktivitas yang dilarang.
Kondisi Setiap Pasangan Berbeda
Meskipun secara dalil diperbolehkan, para ulama mengingatkan bahwa “kekuatan rem” setiap orang berbeda-beda. Bagi pengantin baru atau pasangan yang merasa sulit mengendalikan hasrat, prinsip kehati-hatian (ihtiyat) jauh lebih baik. Menghindari kontak fisik yang berlebihan di siang hari bukan berarti mematikan rasa cinta, melainkan bentuk saling menjaga agar ibadah pasangan tidak tercederai.
Ramadan justru menjadi momentum untuk memperkuat kedekatan emosional (bonding) daripada sekadar fisik. Menahan diri di siang hari akan membuat pertemuan “halal” setelah waktu berbuka hingga sebelum imsak menjadi lebih bermakna.
Kesimpulan: Menjaga Keseimbangan
Batas kemesraan saat puasa pada akhirnya kembali pada kejujuran setiap individu dalam menilai dirinya sendiri. Jika sebuah kecupan dianggap sebagai bumbu kasih sayang yang menenangkan jiwa, Islam tidak melarangnya. Namun, jika itu menjadi api yang membakar pengendalian diri, maka memadamkannya sejenak adalah bagian dari ibadah.
Prinsipnya sederhana: Jagalah puasa Anda agar tidak hanya sah secara hukum (fikih), tetapi juga tetap utuh dan indah nilainya di hadapan Sang Pencipta. (red)
