CIREBON — Aroma dupa yang lamat-lamat terbawa angin laut bercampur dengan gumam doa yang rendah, menciptakan atmosfer magis di kompleks Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, pada Minggu, 8 Februari 2026. Sejak matahari belum meninggi, ribuan orang telah menyemut di pelataran salah satu situs religi paling sakral di pesisir utara Jawa ini. Mereka datang dengan satu tarikan napas niat: membersihkan diri sebelum memasuki gerbang bulan suci Ramadan.
Tradisi ziarah kubur atau nyadran menjelang bulan puasa seolah menemukan momentum puncaknya tahun ini. Arus manusia mengalir deras, memenuhi setiap sudut kompleks makam yang juga menaungi pusara Syekh Maulana Dzatul Kahfi. Di area parkir, deretan bus pariwisata berpelat nomor luar kota bersanding rapat dengan kendaraan pribadi dan ribuan sepeda motor, menandakan bahwa daya pikat spiritual tempat ini telah melintasi batas-batas geografis.
Refleksi di Balik Pintu Kayu Ukir
Di dalam kompleks makam, suasana berubah hening meski dijejali lautan manusia. Peziarah tampak khusyuk bersimpuh, melantunkan tahlil dan zikir yang ritmis. Beberapa kelompok terlihat dipandu oleh juru kunci yang dengan telaten membimbing tata cara berdoa sembari menyelipkan kisah heroik perjuangan Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan syiar Islam di tanah Jawa.
Siti Aminah, perempuan berusia 45 tahun asal Semarang, adalah satu dari sekian banyak orang yang rela menempuh perjalanan jauh demi “sowan” ke makam sang wali. Ia berangkat sejak subuh dan menempuh perjalanan lima jam bersama keluarganya.
“Setiap menjelang Ramadan kami selalu menyempatkan ziarah ke sini. Rasanya lebih tenang kalau sudah berdoa di makam wali,” ujar Siti sembari membetulkan letak kerudungnya. Bagi Siti, perjalanan ini bukan sekadar ritual formal, melainkan sarana refleksi diri agar lebih siap secara batin menjalankan ibadah puasa.
Fenomena ini bukan monopoli warga Jawa Barat semata. Peziarah datang dari Banten, Jawa Timur, hingga menyeberangi lautan dari Sumatra menggunakan jasa travel religi. Bagi mereka, Sunan Gunung Jati tetap menjadi magnet spiritual yang tak lekang oleh zaman.
Berkah di Pematang Makam
Di balik kekhusyukan doa, ada roda ekonomi warga lokal yang berputar kencang. Para pedagang bunga tabur, air mineral, hingga perlengkapan ibadah seperti peci dan sajadah meraup untung berlipat. Yanto, seorang pedagang perlengkapan salat di sekitar lokasi, mengakui bahwa omzetnya melesat hampir dua kali lipat dibanding hari-hari biasa.
“Kalau menjelang Ramadan begini ramai sekali. Bisa jualan sampai malam,” katanya dengan wajah semringah. Sektor jasa seperti warung makan dan pemandu wisata pun turut menikmati limpahan berkah dari para peziarah ini.
Lonjakan pengunjung ini tentu menuntut kesiagaan ekstra dari pihak pengelola. Sejumlah petugas tampak berjaga di jalur-jalur krusial untuk mencegah penumpukan massa dan menjaga ketertiban di area yang disakralkan tersebut. Mereka terus mengimbau pengunjung agar tetap menjaga kebersihan dan kesantunan selama berada di lingkungan makam.
Pemerintah daerah memprediksi arus peziarah akan terus mengalir deras hingga hari pertama Ramadan nanti. Bagi masyarakat, perjalanan ke Gunung Jati adalah jembatan untuk menata kembali niat, menyucikan hati, sekaligus meresapi warisan spiritual para leluhur sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
