CIKALRAMADHAN – Di balik gemuruh suara tadarus dan denting sendok saat berbuka, ada satu fragmen tradisi yang tak pernah absen dari lanskap Ramadan di Indonesia yaitu Kuliah Tujuh Menit atau Kultum. Menjelang Ramadan 2026, fenomena ini tetap menjadi menu wajib di masjid-masjid, musala kantor, hingga kanal YouTube dan TikTok. Kultum bukan sekedar pengisi waktu luang antara azan dan iqamah, melainkan instrumen edukasi spiritual yang menuntut presisi pesan dalam balutan durasi yang terbatas.
Kultum memiliki karakteristik yang unik dibandingkan khotbah Jumat yang formal. Ia adalah seni meringkas samudera hikmah ke dalam segelas air yang mudah diteguk. Dalam durasi yang tak lebih dari sepuluh menit, seorang pembicara ditantang untuk menyentuh aspek emosional sekaligus intelektual jamaah yang mungkin sedang dilanda kantuk menjelang Isya atau sedang tidak sabar menunggu beduk Magrib.
Spektrum Tema: Dari Fikih hingga Etika Digital
Secara tradisional, tema kultum biasanya berkutat pada seputar pembatal puasa, keutamaan Lailatul Qadar, atau zakat fitrah. Namun, mengikuti dinamika zaman, spektrum bahasannya kini meluas. Sebagaimana yang sering diangkat dalam rubrik religi Cikalpedia.id di kanal ramdhan.cikalpedia.id, kultum masa kini mulai menyentuh isu-isu kontemporer seperti etika bermedia sosial saat berpuasa, pengelolaan kesehatan mental, hingga kesadaran ekologi seperti imbauan mengurangi penggunaan plastik saat berbagi takjil.
Keberhasilan sebuah kultum sering kali tidak ditentukan oleh kedalaman referensi kitab kuning semata, tetapi oleh kemasan yang relevan dengan realitas sosiologis jamaah. Di lingkungan perkotaan, kultum yang membahas manajemen stres dan integritas kerja jauh lebih diminati dibandingkan bahasan teoritis yang kaku.
Panggung Baru di Era Layar
Digitalisasi telah mengubah wajah kultum. Jika dulu kultum hanya menggema di pengeras suara masjid, kini ia bertransformasi menjadi konten mikro yang estetik. Pendekatan visual dan narasi “bercerita” (storytelling) menjadi kunci bagi para da’i muda untuk menjangkau generasi Z. Kultum digital menuntut efektivitas lebih tinggi; satu menit pertama adalah penentu apakah audiens akan tetap menyimak atau menggeser layar (swipe).
Namun, esensi kultum tetaplah sama: sebagai pengingat (tadzkiyah). Di tengah rutinitas Ramadan yang terkadang berubah menjadi sekadar ritual mekanis, kehadiran kultum berfungsi sebagai interupsi yang menyegarkan pikiran. Ia adalah kompas kecil yang membantu jamaah untuk tetap berada di jalur spiritualitas yang benar, memastikan bahwa puasa yang dijalani bukan sekadar menahan lapar, melainkan proses transformasi karakter yang berkelanjutan. (ali)
